Aku mencintaimu, dua kecintaan
Cintaku atas nama Tuhanku
Juga cinta apa adanya dirimu
Aku mencintaimu, dua kecintaan
Izinkan aku rengkuh bayangmu
Izinkan aku cumbu cintamu
Aku mencintaimu, dua kecintaan
Kekecewaan ku reguk
Terluka, mati perlahan kulalui
Aku cintaimu, dua kecintaan
Sebelah hati pun tak berbalas
Tersenyumku dalam tidur panjang
Teruntuk engkau pujaan hati
Aku mencintaimu, dua kecintaan
We are in same earth, we see the same moon and yeah we are same as human but we create different story. Here, mine. Don't judge it because God does.
Jumat, 16 Desember 2011
Langit Jingga
semburat jingga langit
tangan dingin Tuhan lukiskan cinta
tidaklah berucap melainkan pujian
tidaklah mata memandang melainkan takjub
semburat jingga langit
hantarkan raja siang ke peraduan
senyum bulan terangi malam
kerlip bintang indahkan malam
pujiku tak berucap
sapaku tak bersuara
syahdu tangisku wakil hati
lirih nama-MU tak henti terucap
tangan dingin Tuhan lukiskan cinta
tidaklah berucap melainkan pujian
tidaklah mata memandang melainkan takjub
semburat jingga langit
hantarkan raja siang ke peraduan
senyum bulan terangi malam
kerlip bintang indahkan malam
pujiku tak berucap
sapaku tak bersuara
syahdu tangisku wakil hati
lirih nama-MU tak henti terucap
Kamis, 08 Desember 2011
Pertemuan Singkat
"I Love You, darl. Please don't leave me." Terngiang-ngiang di telinga Tari kata-kata indah itu. Sudah hampir pukul 02.00 dini hari, belum juga Tari beranjak tidur. Entah apa yang dipikirkannya. Terdengar jendela kamar Tari diketuk. Pukul 02.00 dini hari, tak mungkin ada orang bertamu pikirnya. Dengan langkah gontai, ia melangkah menuju jendela kamarnya. Disibaknya tirai yang menutupi jendelanya. Tampaklah seraut wajah seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Tanpa pikir panjang ia membuka jendela. Lelaki tampan itu hanya tersenyum, ya hanya tersenyum. Ditangannya tergenggam sepucuk surat dan setangkai mawar. Rangga Jingga Atmadwingga, berdiri kaku dengan senyum manis dihadapan Tari. Tari tak mampu berucap, tanpa terasa tetes air mata menghiasi wajahnya. Selangkah demi selangkah Rangga mendekat dan menghapus air mata itu. Sedetik kemudian, sepucuk surat dan setangkai mawar yang tadi berada di genggaman Rangga, sudah berpindah tempat. Kecupan di kening Tari mengakhiri pertemuan singkat mereka.
"Aku akan datang padamu, untuk menjadikanmu yang halal bagimu. Tunggu aku wahai insan yang diberkati Allah wajah indah. Aku akan datang dan menjadi apa yang pernah kau harapkan" ucap Rangga lirih.
Kalimat perpisahan itu, kalimat yang akan memisahkan jarak antara Rangga dan Tari, kalimat itu pula yang mengiringi perginya Rangga. Tari terduduk lemas dengan surat dan mawar dipelukannya. Sesaat ia berdiri dan menutup jendela. Kembali dengan semua keresahannya, ia buka amplop bergambar matahari jingga tersebut.
"Aku akan datang padamu, untuk menjadikanmu yang halal bagimu. Tunggu aku wahai insan yang diberkati Allah wajah indah. Aku akan datang dan menjadi apa yang pernah kau harapkan" ucap Rangga lirih.
Kalimat perpisahan itu, kalimat yang akan memisahkan jarak antara Rangga dan Tari, kalimat itu pula yang mengiringi perginya Rangga. Tari terduduk lemas dengan surat dan mawar dipelukannya. Sesaat ia berdiri dan menutup jendela. Kembali dengan semua keresahannya, ia buka amplop bergambar matahari jingga tersebut.
Untuk Mentari yang menerangi hatiku,
Ku tulis surat ini dengan bulir air mata.
Aku tak mau kau bersedih, hai yang indah parasnya.
Kau tau, betapa berat ketika aku harus pergi dari sisimu, wahai yang lembut tutur katanya ?
Aku sampaikan padamu, betapa aku mencintaimu.
Betapa aku menginginkanmu untuk temani sisa hidupku
Betapa tingginya harapku pada-MU wahai Tuhan yang Maha Mencintai, untuk menjadikan wanita yang membaca surat ini yang halal bagiku.
Aku pergi untuk mempersiapkan hidup kita di masa yang akan datang, hai orang yang kucintai.
Dan aku kembali untuk memastikan kau menjadi teman hidupku kelak.
Untuk menjadi ibu bagi anak-anakku.
Untuk menjadikanmu mentari di siang dan malamku.
Hatiku untukmu.
Detak jantungku mengingatkan, bahwa aku harus tetap hidup hingga kurengkuh kau dalam bahteraku.
Aku pergi untukmu, juga kembali untukmu wahai wanita berhati perak.
Tersenyumlah dan sambut aku dengan peluk cintamu.
Dengan airmata dan cinta,
RANGGA JINGGA ATMADWINGGA
Semakin jadi tangis Tari. Namun, ia percaya dan yakin bahwa ini awal dari penantian yang akan berakhir dengan senyum bahgia. Dengan lembut di kecupnya tipis surat itu, ia hirup dalam wangi mawar dan ia pun terlelap dalam tidurnya.
Teruntuk kekasih yang dititipkan Tuhan padaku,
Aku akan menunggumu hingga habis waktuku, wahai lelaki yang aku cintai suaranya.
Aku akan menjadi apa yang kau harapkan dengan semua yang terbaik, hai yang akan menjadi yang halal bagiku.
Aku sampaikan padamu.
Aku berharap yang terbaik darimu
Aku takkan lelah berdiri di area penantianku
Aku takkan berhenti menunggumu disimpang jalan hidupku
Setiap malam aku berharap, datangnya kau seiring terbitnya fajar
Aku mencintaimu dengan segala kerendahan hatiku
Dengan peluk hangat penuh rindu,
Yang halal bagimu,
MENTARI EDELWIS
Rabu, 07 Desember 2011
The Lady Of Shallot
PART 1
On either side of the river lie
Long fields of barley and of rye,
That clothe the wold and meet the sky;
And through the field the road runs by
To many-towered Camelot;
And up and down the people go,
Gazing where the lilies blow
Round an island there below,
The island of Shalott.1
Long fields of barley and of rye,
That clothe the wold and meet the sky;
And through the field the road runs by
To many-towered Camelot;
And up and down the people go,
Gazing where the lilies blow
Round an island there below,
The island of Shalott.1
Willows whiten, aspens quiver,
Little breezes dusk and shiver
Through the wave that runs for ever
By the island in the river
Flowing down to Camelot.
Four gray walls, and four gray towers,
Overlook a space of flowers,
And the silent isle imbowers
The Lady of Shalott.
Little breezes dusk and shiver
Through the wave that runs for ever
By the island in the river
Flowing down to Camelot.
Four gray walls, and four gray towers,
Overlook a space of flowers,
And the silent isle imbowers
The Lady of Shalott.
By the margin, willow veiled
Slide the heavy barges trailed
By slow horses; and unhailed
The shallop flitteth silken-sailed
Skimming down to Camelot:
But who hath seen her wave her hand?
Or at the casement seen her stand? 25
Or is she known in all the land,
The Lady of Shalott?
Slide the heavy barges trailed
By slow horses; and unhailed
The shallop flitteth silken-sailed
Skimming down to Camelot:
But who hath seen her wave her hand?
Or at the casement seen her stand? 25
Or is she known in all the land,
The Lady of Shalott?
Only reapers, reaping early
In among the bearded barley,
Hear a song that echoes cheerly
From the river winding clearly,
Down to towered Camelot:
And by the moon the reaper weary,
Piling sheaves in uplands airy,
Listening, whispers "'Tis the fairy
Lady of Shalott."
In among the bearded barley,
Hear a song that echoes cheerly
From the river winding clearly,
Down to towered Camelot:
And by the moon the reaper weary,
Piling sheaves in uplands airy,
Listening, whispers "'Tis the fairy
Lady of Shalott."
PART 2
There she weaves by night and day
A magic web with colours gay.
She has heard a whisper say,
A curse is on her if she stay
To look down to Camelot.
She knows not what the curse may be,
And so she weaveth steadily,
And little other care hath she,
The Lady of Shalott.
A magic web with colours gay.
She has heard a whisper say,
A curse is on her if she stay
To look down to Camelot.
She knows not what the curse may be,
And so she weaveth steadily,
And little other care hath she,
The Lady of Shalott.
And moving through a mirror clear
That hangs before her all the year,
Shadows of the world appear.
There she sees the highway near
Winding down to Camelot: 50
There the river eddy whirls,
And there the curly village-churls,
And the red cloaks of market girls,
Pass onward from Shalott.
That hangs before her all the year,
Shadows of the world appear.
There she sees the highway near
Winding down to Camelot: 50
There the river eddy whirls,
And there the curly village-churls,
And the red cloaks of market girls,
Pass onward from Shalott.
Sometimes a troop of damsels glad,
An abbot on an ambling pad,
Sometimes a curly shepherd-lad,
Or long-haired page in crimson clad,
Goes by to towered Camelot;
And sometimes through the mirror blue
The knights come riding two and two:
She hath no loyal knight and true,
The Lady of Shalott.
An abbot on an ambling pad,
Sometimes a curly shepherd-lad,
Or long-haired page in crimson clad,
Goes by to towered Camelot;
And sometimes through the mirror blue
The knights come riding two and two:
She hath no loyal knight and true,
The Lady of Shalott.
But in her web she still delights
To weave the mirror's magic sights,
For often through the silent nights
A funeral, with plumes and lights
And music, went to Camelot:
Or when the moon was overhead,
Came two young lovers lately wed;
"I am half sick of shadows," said
The Lady of Shalott.
To weave the mirror's magic sights,
For often through the silent nights
A funeral, with plumes and lights
And music, went to Camelot:
Or when the moon was overhead,
Came two young lovers lately wed;
"I am half sick of shadows," said
The Lady of Shalott.
PART 3
A bow-shot from her bower-eaves,
He rode between the barley-sheaves,
The sun came dazzling through the leaves, 75
And flamed upon the brazen greaves
Of bold Sir Lancelot.
A red-cross knight for ever kneeled
To a lady in his shield,
That sparkled on the yellow field,
Beside remote Shalott.
He rode between the barley-sheaves,
The sun came dazzling through the leaves, 75
And flamed upon the brazen greaves
Of bold Sir Lancelot.
A red-cross knight for ever kneeled
To a lady in his shield,
That sparkled on the yellow field,
Beside remote Shalott.
The gemmy bridle glittered free,
Like to some branch of stars we see
Hung in the golden Galaxy.
The bridle bells rang merrily
As he rode down to Camelot:
And from his blazoned baldric slung
A mighty silver bugle hung,
And as he rode his armour rung,
Beside remote Shalott.
Like to some branch of stars we see
Hung in the golden Galaxy.
The bridle bells rang merrily
As he rode down to Camelot:
And from his blazoned baldric slung
A mighty silver bugle hung,
And as he rode his armour rung,
Beside remote Shalott.
All in the blue unclouded weather
Thick-jewelled shone the saddle-leather,
The helmet and the helmet-feather
Burned like one burning flame together,
As he rode down to Camelot.
As often through the purple night,
Below the starry clusters bright,
Some bearded meteor, trailing light,
Moves over still Shalott.
Thick-jewelled shone the saddle-leather,
The helmet and the helmet-feather
Burned like one burning flame together,
As he rode down to Camelot.
As often through the purple night,
Below the starry clusters bright,
Some bearded meteor, trailing light,
Moves over still Shalott.
His broad clear brow in sunlight glow'd; 100
On burnished hooves his war-horse trode;
From underneath his helmet flowed
His coal-black curls as on he rode,
As he rode down to Camelot.
From the bank and from the river
He flashed into the crystal mirror,
"Tirra lira," by the river
Sang Sir Lancelot.
On burnished hooves his war-horse trode;
From underneath his helmet flowed
His coal-black curls as on he rode,
As he rode down to Camelot.
From the bank and from the river
He flashed into the crystal mirror,
"Tirra lira," by the river
Sang Sir Lancelot.
She left the web, she left the loom,
She made three paces through the room,
She saw the water-lily bloom,
She saw the helmet and the plume,
She looked down to Camelot.
Out flew the web and floated wide;
The mirror cracked from side to side;
"The curse is come upon me," cried
The Lady of Shalott.
She made three paces through the room,
She saw the water-lily bloom,
She saw the helmet and the plume,
She looked down to Camelot.
Out flew the web and floated wide;
The mirror cracked from side to side;
"The curse is come upon me," cried
The Lady of Shalott.
PART 4
n the stormy east-wind straining,
The pale yellow woods were waning,
The broad stream in his banks complaining,
Heavily the low sky raining
Over towered Camelot;
Down she came and found a boat
Beneath a willow left afloat,
And round about the prow she wrote 125
The Lady of Shalott.
The pale yellow woods were waning,
The broad stream in his banks complaining,
Heavily the low sky raining
Over towered Camelot;
Down she came and found a boat
Beneath a willow left afloat,
And round about the prow she wrote 125
The Lady of Shalott.
And down the river's dim expanse
Like some bold seer in a trance,
Seeing all his own mischance —
With a glassy countenance
Did she look to Camelot.
And at the closing of the day
She loosed the chain, and down she lay;
The broad stream bore her far away,
The Lady of Shalott.
Like some bold seer in a trance,
Seeing all his own mischance —
With a glassy countenance
Did she look to Camelot.
And at the closing of the day
She loosed the chain, and down she lay;
The broad stream bore her far away,
The Lady of Shalott.
Lying, robed in snowy white
That loosely flew to left and right —
The leaves upon her falling light —
Through the noises of the night
She floated down to Camelot:
And as the boat-head wound along
The willowy hills and fields among,
They heard her singing her last song,
The Lady of Shalott.
That loosely flew to left and right —
The leaves upon her falling light —
Through the noises of the night
She floated down to Camelot:
And as the boat-head wound along
The willowy hills and fields among,
They heard her singing her last song,
The Lady of Shalott.
Heard a carol, mournful, holy,
Chanted loudly, chanted lowly,
Till her blood was frozen slowly,
And her eyes were darkened wholly,
Turned to towered Camelot.
For ere she reached upon the tide 150
The first house by the water-side,
Singing in her song she died,
The Lady of Shalott.
Chanted loudly, chanted lowly,
Till her blood was frozen slowly,
And her eyes were darkened wholly,
Turned to towered Camelot.
For ere she reached upon the tide 150
The first house by the water-side,
Singing in her song she died,
The Lady of Shalott.
Under tower and balcony,
By garden-wall and gallery,
A gleaming shape she floated by,
Dead-pale between the houses high,
Silent into Camelot.
Out upon the wharfs they came,
Knight and burgher, lord and dame,
And round the prow they read her name,
The Lady of Shalott.
By garden-wall and gallery,
A gleaming shape she floated by,
Dead-pale between the houses high,
Silent into Camelot.
Out upon the wharfs they came,
Knight and burgher, lord and dame,
And round the prow they read her name,
The Lady of Shalott.
Who is this? and what is here?
And in the lighted palace near
Died the sound of royal cheer;
And they crossed themselves for fear,
All the knights at Camelot:
But Lancelot mused a little space;
He said, "She has a lovely face;
God in his mercy lend her grace,
The Lady of Shalott."
And in the lighted palace near
Died the sound of royal cheer;
And they crossed themselves for fear,
All the knights at Camelot:
But Lancelot mused a little space;
He said, "She has a lovely face;
God in his mercy lend her grace,
The Lady of Shalott."
Senin, 05 Desember 2011
Kembalikan Aku Pada Tuhanku
Aku tersadar dengan gemerlapnya dunia
Sokongan teman runtuh
Tembok tinggi hati seakan hilang
Hilang arah, terjatuh, bangkit
Aku bukan aku
Jiwa mana yang menguasai entahlah
Aku tak mengerti
Berlariku mencari yang telah hilang
Bangkitku, jatuh
Tak jua kutemukan apa yang kucari
Hilanglah jiwaku
Hilanglah aku
Tersesatku dalam jurang musuhku
Tergodaku manis katamu
Kembalikan aku pada inangku, Tuhan
Inginku kembali bersujud dihadap-Mu dengan cinta
Dengan hati yang sebenarnya
Inginku kembali pada Tuhanku
Penuhi cintaku hanya dengan terang-Nya cinta-Mu yaa Rabb..
Sokongan teman runtuh
Tembok tinggi hati seakan hilang
Hilang arah, terjatuh, bangkit
Aku bukan aku
Jiwa mana yang menguasai entahlah
Aku tak mengerti
Berlariku mencari yang telah hilang
Bangkitku, jatuh
Tak jua kutemukan apa yang kucari
Hilanglah jiwaku
Hilanglah aku
Tersesatku dalam jurang musuhku
Tergodaku manis katamu
Kembalikan aku pada inangku, Tuhan
Inginku kembali bersujud dihadap-Mu dengan cinta
Dengan hati yang sebenarnya
Inginku kembali pada Tuhanku
Penuhi cintaku hanya dengan terang-Nya cinta-Mu yaa Rabb..
Minggu, 04 Desember 2011
Ciptaan-Nya Yang Indah
Ketika Tuhan pertemukan aku dengan ciptaan-Nya yang indah
Salahkah jika kukagumi ?
Decak kagumku tak terhindar
Fokusku satu, dia yang indah
Otakku beredar diporosnya
Tutur katanya, seindah parasnya
Tuhan, bolehkah aku jabat tangannya ?
Sekedar ucapkan "kau indah dimataku"
Disini ku tatap indahnya dirimu
Tak terlihatkah olehmu ?
Tuhan...
Harapku pada-Mu...
Salahkah jika kukagumi ?
Decak kagumku tak terhindar
Fokusku satu, dia yang indah
Otakku beredar diporosnya
Tutur katanya, seindah parasnya
Tuhan, bolehkah aku jabat tangannya ?
Sekedar ucapkan "kau indah dimataku"
Disini ku tatap indahnya dirimu
Tak terlihatkah olehmu ?
Tuhan...
Harapku pada-Mu...
Pelatihan Da'i/Da'iyah -HMJ Dakwah STAIN Pontianak-
Hari Sabtu-Minggu 3-4 Desember 2011 ini saya mengikuti kegiatan pelatihan di STAIN Pontianak.
Saya ingin sedikit berbagi dengan kalian semua, apa yang telah saya dapat kemarin dan hari ini.
Ini hanya berdasar dari catatan-catatan yang saya buat disaat pelatihan. Jadi, apabila sekiranya postingan ini isinya berantakan, maklum sajalah..
Disini, kita akan membicarakan sedikit banyak tentang dakwah dan pendakwah (da'i). Jadi dalam berdakwah ada tiga komponen penting yang harus ada dalam setiap pendakwahan tersebut, yakni da'i (pendakwah), mad'u (sasaran dakwah) dan materi dakwah. Kenapa tiga komponen tersebut harus ada? Ya, karena tanpa salah satu dari komponen tersebut dakwah takkan berlangsung dengan baik dan jauh dari kata benar. Contohnya, dakwah tanpa seorang da'i. Bisakah itu terjadi ? Tentu saja tidak. Begitupula dengan dakwah tanpa mad'u. Siapa yang akan mendengar? Siapa yang akan merealisasikan tujuan dakwah tersebut. Demikian pula dengan materi dakwah. Nah, maka dari itu ketiga komponen dakwah ini dikatakan sangat pengtin dan harus ada. Karena tanpa adanya salah satu dari komponen dakwah itu, dakwah tidak akan pernah terjadi. Benar atau salah?
Yang kedua, setelah kita tahu apa saja yang harus ada dalam dakwah itu, kita juga harus tau apa tujuan dakwah itu. Nah, tujuan dakwah itu ada tiga yakni informatif, persuasif serta rekreatif. Tujuan pertama, informatif, dakwah yang informatif ini bersifat memberi. Dalam hal ini memberi informasi. Informasi apa? Tentu saja berkaitan erat dengan tema yang diusung serta apa yang menjadi topik bahasan dalam dakwah tersebut. Untuk tujuan yang kedua, persuasif, persuasif disini adalah tujuan dakwah yang berupa ajakan, himbauan dan bahkan pengaruh-pengaruh, dalam hal positif tentunya. Selanjutnya tujuan ketiga, rekreatif, rekreatif ini adalah menghibur. Banyak para da'i-da'i yang menyisipkan bahkan sedikit mengutamakan tujuan ini, untuk apa? Untuk menyegarkan suasana. Tak ayal banyak jema'ah yang tidur ketika mendengarkan ceramah atau semacamnya, kenapa? Ya itu tadi, karena suasana yang monoton, membosankan dan lain sebagainya. Informatif, persuasif dan rekreatif ini tidak hanya berlaku untuk dakwah saja, ini lebih umumnya digunakan sebgai pidato. Dalam konteks ini pula, salah satu metode dakwah itu adalah pidato. Maka dengan yakin saya sebutkan disini bahwa ketiganya tujuan dakwah. Selain itu tujuan dakwah ini, yang jelas untuk menyerukan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dari tujuan utama ini, maka lahirlah tujuan-tujuan sampingan seperti, dakwah ini bertujuan untuk melahirkan keharmonisan dan keseimbangan antara makhluk dan sang Khalik, keharmonisan antara makhluk dan makhluk, serta keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Itulah tujuan-tujuan yang dapat kita capai dari berdakwah.
Setelah kita berbicara tentang tujuan dakwah, sekarang kita bahas tentang masalah-maslah apa saja yang bisa diangkat sebagai tema atau bahsan-bahasan dalam dakwah tersebut. Menurut Ust.Syahrani (salah satu narasumber dalam pelatihan ini) secara garis besar, masalah yang diangkat dalam dakwah ini terbagi atas dua, yakni :
1. Masalah Ubudiyah
Masalah Ubudiyah ini menyangkut tentang hubungan antara makhluk dan sang Khalik. Poin-poinnya adalah sebagai berikut :
- Kemusyrikan (menyekutukan Allah)
- Kemurtadan (pindah keyakinan dan agama)
- Pelecehan terhadap sya'riat (hukum Allah)
2. Masalah Kemanusiaan
Masalah kemanusiaan ini sangatlah kompleks. Banyak sekali masalah-masalah kemanusiaan yang bisa diangkat menjadi sebuah bahasan dalam dakwah atau pidato, seperti :
- Kehidupan sosial bermasyarakat
- Ekonomi
- Politik
- Hubungan antara manusia dengan alam dan manusia dengan tumbuh-tumbuhan juga hewan
- Budaya
- Hukum
- Lingkungan hidup
Ada dua macam dakwah, yakni dakwah bil qaul (lisan) dan dakwah bil hal (perbuatan).Cara kita menyampaikan dakwah juga ada dua yang pertama dakwah dengan tatap muka (face to face) dakwah yang seperti ini biasanya dilakukan apabila menharapkan efek perubahan tingkah laku yang secara langsung. Yang kedua, dakwah dengan media, dakwah yang seperti ini biasanya hanya untuk mencapai tujuan pertama, yaitu informatif. Jadi, dakwah dengan media ini umumnya bersifat informatik. Efek yang diharapkan dari dakwah itu sendiri ada tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sekarang kita lihat bagaimana karakteristik da'i yang baik, antara lain :
1. Mendalami pengetahuan Al-Qur'an dan Hadits
2. Menggabungkan pengetahuan lama dan modern
3. Menguasai bahasa setempat
4. Mengetahui cara dan adab berdakwah
5. Berakhlak mulia
6. Bijaksana dan berpenampilan baik
7. Pandai memilih judul, menjauhkan apa-apa yang membawa keraguan
8. Da'i adalah pemimpin sudah seharusnya seorang da'i dapat dijadikan panutan atau teladan
Sudah kita ketahui bersama bagaimana karakteristik da'i yang baik, nah sekarang bagaimana kepribadian da'i masa kini yang diharapkan. Berikut kriterianya,
a. Lemah lembut dan berakhlaqul karimah
b. Memberi kemudahan
c. Bisa menyesuaikan diri dengan mad'u, utamanya dalam hal bahasa
d. Adab dakwah yang benar
Dari karakteristik dan kepribadian da'i yang telah disebutkan diatas, maka kita juga harus mengetahui apa-apa saja yang menentukan keberhasilan dakwah, berikut ini salah satunya :
a. Kemuliaan da'i tersebut
b. Keikhlasan
c. Memahami audien
d. Metode
e. Do'a
Tentunya dalam masyarakat da'i memiliki fungsi dan peran tersendiri, antara lain sebgai berikut :
1. Sebagai pengajak (penyeru)
2. Sebagai pemberi informasi agama yang baik dan benar
3. Sebagai motifator (pemberi berita gembira)
4. Menjadi pemutus masalah-masalah agama (tempat orang bertanya)
5. Menjadi teladan, panutan dll.
6. Menjadi pemimpin sekaligus orang tua bagi masyarakat.
Itu hanya sebagian kecil dari apa yang saya dapat dari pelatihan ini. Selain apa yang telah disebutkan diatas, saya juga ingin berbagi sedikit tentang pidato yang juga saya dapat dari pelatihan ini.
Beberapa jenis pidato, yaitu :
1. Impromtu, yakni jenis pidato dadakan. Contohnyaa ketika kita sedang menghadiri suatu acara, sebutlah peringatan hari besar Islam, pengisi acaranya bahkan penceramahnya tidak hadir. Dan saat itu kita ditunjuk untuk menggatikannya. Pidato atau ceramah yang kita sampaikan saat itu, termasuk dalam jenis yang pertama ini.
2. Manuskrip, jenis pidato yang pertama bersifat dadakan tentunya tidak ada konsep yang sisiapkan sebelumnya. Jauh berbeda dengan jenis pidato manuskrip ini, jenis pidato ini ialah dimana kita menyampaikan pidato dengan membaca naskah pidato. Yaa, terkadang pidato jenis terkesan teksbook, monoton dan membosankan.
3. Memoriter, namanya saja memori tentu saja mengandalkan daya ingat. Disini pidato memoriter yaitu dengan cara mengingat semua kata demi kata, titik koma dalam naskah yang telah disiapkan oleh da'i. jenis dakwah ini kurang efektif. Karena jika terjadi lupa walau hanya satu kata dapat menimbulkan efek yang luar biasa.
4. Ekstempore, nah inilah jenis pidato yang paling baik dan efektif. Kenapa? Karena pidato ini tidak mengandalkan daya ingat, tidak mengandalkan naskah namun mengandalkan improvisasi. Jadi pidato ini hanya memerlukan dua bagian penting, yaitu outline dan supporting points.
Inilah sedikit ilmu yang dapat saya bagi kepada semua pembaca. Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. Maaf jika terjadi kesalahan-kesalahan, karena memang kesalahan datangnya dari saya dan kebenaran mutlak milik Allah. Terima kasih kepada kakak-kakak panitia Pelatihan Da'i/Da'iyah se-Kota Pontianak yang tidak dapat saya sebutkan satu-satu (karena memang ga kenal), Ka Mita, Ka Dewi, Ka Abdus Syakur, Ka Ahmad Mutamakin, Ka Supriadi, Ka Susi, Ka Alimin (ini hanya berdasar pendengaran dan ingatan saya, bukan karena memihak, dimohon untuk tidak merasa envy).
Saya ingin sedikit berbagi dengan kalian semua, apa yang telah saya dapat kemarin dan hari ini.
Ini hanya berdasar dari catatan-catatan yang saya buat disaat pelatihan. Jadi, apabila sekiranya postingan ini isinya berantakan, maklum sajalah..
Disini, kita akan membicarakan sedikit banyak tentang dakwah dan pendakwah (da'i). Jadi dalam berdakwah ada tiga komponen penting yang harus ada dalam setiap pendakwahan tersebut, yakni da'i (pendakwah), mad'u (sasaran dakwah) dan materi dakwah. Kenapa tiga komponen tersebut harus ada? Ya, karena tanpa salah satu dari komponen tersebut dakwah takkan berlangsung dengan baik dan jauh dari kata benar. Contohnya, dakwah tanpa seorang da'i. Bisakah itu terjadi ? Tentu saja tidak. Begitupula dengan dakwah tanpa mad'u. Siapa yang akan mendengar? Siapa yang akan merealisasikan tujuan dakwah tersebut. Demikian pula dengan materi dakwah. Nah, maka dari itu ketiga komponen dakwah ini dikatakan sangat pengtin dan harus ada. Karena tanpa adanya salah satu dari komponen dakwah itu, dakwah tidak akan pernah terjadi. Benar atau salah?
Yang kedua, setelah kita tahu apa saja yang harus ada dalam dakwah itu, kita juga harus tau apa tujuan dakwah itu. Nah, tujuan dakwah itu ada tiga yakni informatif, persuasif serta rekreatif. Tujuan pertama, informatif, dakwah yang informatif ini bersifat memberi. Dalam hal ini memberi informasi. Informasi apa? Tentu saja berkaitan erat dengan tema yang diusung serta apa yang menjadi topik bahasan dalam dakwah tersebut. Untuk tujuan yang kedua, persuasif, persuasif disini adalah tujuan dakwah yang berupa ajakan, himbauan dan bahkan pengaruh-pengaruh, dalam hal positif tentunya. Selanjutnya tujuan ketiga, rekreatif, rekreatif ini adalah menghibur. Banyak para da'i-da'i yang menyisipkan bahkan sedikit mengutamakan tujuan ini, untuk apa? Untuk menyegarkan suasana. Tak ayal banyak jema'ah yang tidur ketika mendengarkan ceramah atau semacamnya, kenapa? Ya itu tadi, karena suasana yang monoton, membosankan dan lain sebagainya. Informatif, persuasif dan rekreatif ini tidak hanya berlaku untuk dakwah saja, ini lebih umumnya digunakan sebgai pidato. Dalam konteks ini pula, salah satu metode dakwah itu adalah pidato. Maka dengan yakin saya sebutkan disini bahwa ketiganya tujuan dakwah. Selain itu tujuan dakwah ini, yang jelas untuk menyerukan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dari tujuan utama ini, maka lahirlah tujuan-tujuan sampingan seperti, dakwah ini bertujuan untuk melahirkan keharmonisan dan keseimbangan antara makhluk dan sang Khalik, keharmonisan antara makhluk dan makhluk, serta keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Itulah tujuan-tujuan yang dapat kita capai dari berdakwah.
Setelah kita berbicara tentang tujuan dakwah, sekarang kita bahas tentang masalah-maslah apa saja yang bisa diangkat sebagai tema atau bahsan-bahasan dalam dakwah tersebut. Menurut Ust.Syahrani (salah satu narasumber dalam pelatihan ini) secara garis besar, masalah yang diangkat dalam dakwah ini terbagi atas dua, yakni :
1. Masalah Ubudiyah
Masalah Ubudiyah ini menyangkut tentang hubungan antara makhluk dan sang Khalik. Poin-poinnya adalah sebagai berikut :
- Kemusyrikan (menyekutukan Allah)
- Kemurtadan (pindah keyakinan dan agama)
- Pelecehan terhadap sya'riat (hukum Allah)
2. Masalah Kemanusiaan
Masalah kemanusiaan ini sangatlah kompleks. Banyak sekali masalah-masalah kemanusiaan yang bisa diangkat menjadi sebuah bahasan dalam dakwah atau pidato, seperti :
- Kehidupan sosial bermasyarakat
- Ekonomi
- Politik
- Hubungan antara manusia dengan alam dan manusia dengan tumbuh-tumbuhan juga hewan
- Budaya
- Hukum
- Lingkungan hidup
Ada dua macam dakwah, yakni dakwah bil qaul (lisan) dan dakwah bil hal (perbuatan).Cara kita menyampaikan dakwah juga ada dua yang pertama dakwah dengan tatap muka (face to face) dakwah yang seperti ini biasanya dilakukan apabila menharapkan efek perubahan tingkah laku yang secara langsung. Yang kedua, dakwah dengan media, dakwah yang seperti ini biasanya hanya untuk mencapai tujuan pertama, yaitu informatif. Jadi, dakwah dengan media ini umumnya bersifat informatik. Efek yang diharapkan dari dakwah itu sendiri ada tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sekarang kita lihat bagaimana karakteristik da'i yang baik, antara lain :
1. Mendalami pengetahuan Al-Qur'an dan Hadits
2. Menggabungkan pengetahuan lama dan modern
3. Menguasai bahasa setempat
4. Mengetahui cara dan adab berdakwah
5. Berakhlak mulia
6. Bijaksana dan berpenampilan baik
7. Pandai memilih judul, menjauhkan apa-apa yang membawa keraguan
8. Da'i adalah pemimpin sudah seharusnya seorang da'i dapat dijadikan panutan atau teladan
Sudah kita ketahui bersama bagaimana karakteristik da'i yang baik, nah sekarang bagaimana kepribadian da'i masa kini yang diharapkan. Berikut kriterianya,
a. Lemah lembut dan berakhlaqul karimah
b. Memberi kemudahan
c. Bisa menyesuaikan diri dengan mad'u, utamanya dalam hal bahasa
d. Adab dakwah yang benar
Dari karakteristik dan kepribadian da'i yang telah disebutkan diatas, maka kita juga harus mengetahui apa-apa saja yang menentukan keberhasilan dakwah, berikut ini salah satunya :
a. Kemuliaan da'i tersebut
b. Keikhlasan
c. Memahami audien
d. Metode
e. Do'a
Tentunya dalam masyarakat da'i memiliki fungsi dan peran tersendiri, antara lain sebgai berikut :
1. Sebagai pengajak (penyeru)
2. Sebagai pemberi informasi agama yang baik dan benar
3. Sebagai motifator (pemberi berita gembira)
4. Menjadi pemutus masalah-masalah agama (tempat orang bertanya)
5. Menjadi teladan, panutan dll.
6. Menjadi pemimpin sekaligus orang tua bagi masyarakat.
Itu hanya sebagian kecil dari apa yang saya dapat dari pelatihan ini. Selain apa yang telah disebutkan diatas, saya juga ingin berbagi sedikit tentang pidato yang juga saya dapat dari pelatihan ini.
Beberapa jenis pidato, yaitu :
1. Impromtu, yakni jenis pidato dadakan. Contohnyaa ketika kita sedang menghadiri suatu acara, sebutlah peringatan hari besar Islam, pengisi acaranya bahkan penceramahnya tidak hadir. Dan saat itu kita ditunjuk untuk menggatikannya. Pidato atau ceramah yang kita sampaikan saat itu, termasuk dalam jenis yang pertama ini.
2. Manuskrip, jenis pidato yang pertama bersifat dadakan tentunya tidak ada konsep yang sisiapkan sebelumnya. Jauh berbeda dengan jenis pidato manuskrip ini, jenis pidato ini ialah dimana kita menyampaikan pidato dengan membaca naskah pidato. Yaa, terkadang pidato jenis terkesan teksbook, monoton dan membosankan.
3. Memoriter, namanya saja memori tentu saja mengandalkan daya ingat. Disini pidato memoriter yaitu dengan cara mengingat semua kata demi kata, titik koma dalam naskah yang telah disiapkan oleh da'i. jenis dakwah ini kurang efektif. Karena jika terjadi lupa walau hanya satu kata dapat menimbulkan efek yang luar biasa.
4. Ekstempore, nah inilah jenis pidato yang paling baik dan efektif. Kenapa? Karena pidato ini tidak mengandalkan daya ingat, tidak mengandalkan naskah namun mengandalkan improvisasi. Jadi pidato ini hanya memerlukan dua bagian penting, yaitu outline dan supporting points.
Inilah sedikit ilmu yang dapat saya bagi kepada semua pembaca. Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. Maaf jika terjadi kesalahan-kesalahan, karena memang kesalahan datangnya dari saya dan kebenaran mutlak milik Allah. Terima kasih kepada kakak-kakak panitia Pelatihan Da'i/Da'iyah se-Kota Pontianak yang tidak dapat saya sebutkan satu-satu (karena memang ga kenal), Ka Mita, Ka Dewi, Ka Abdus Syakur, Ka Ahmad Mutamakin, Ka Supriadi, Ka Susi, Ka Alimin (ini hanya berdasar pendengaran dan ingatan saya, bukan karena memihak, dimohon untuk tidak merasa envy).
Just A Shuffling Heart's Content
When you tell me that you love me
I fall in love with you
I don't know, how it's can be
But, I know that I love you
Everyday I love you
Everything I do, I do it for you darl
But, you tossed it in the trash
You said you love, you're liar
I give you all I had
You take it all, but you never give
I do anything for you
I would die for you
But you ?
You'll never do the same
You break my heart
But darling, I'll still love you
Don't be afraid 'cause I've loved you for a thousand day
*I'm not in a goodmood.So, forgive me, if the English so bad.
I fall in love with you
I don't know, how it's can be
But, I know that I love you
Everyday I love you
Everything I do, I do it for you darl
But, you tossed it in the trash
You said you love, you're liar
I give you all I had
You take it all, but you never give
I do anything for you
I would die for you
But you ?
You'll never do the same
You break my heart
But darling, I'll still love you
Don't be afraid 'cause I've loved you for a thousand day
*I'm not in a goodmood.So, forgive me, if the English so bad.
Langganan:
Komentar (Atom)