gadis berjilbab tosca itu memandang kosong ke arah air mancur 200 meter di hadapannya. entah apa yang digundahkannya, entah apa yang begitu dikalutkannya hingga raut wajahnya yang indah sedikit menekuk. tak tau apa dan mengapa, hatiku ingin sekali mendekati dan bertanya. tapiii, siapa aku ? kenal saja tidak dengan gadis berjilbab itu. parasnya, paras bidadari sorga. sekilas terlintas di benakku apa ini nafsu ? hatiku cepat menangkalnya, bukan. ini bukan nafsu. ini suratan. mungkinkah ? aku masih ragu.
empat langkah aku mundur, namun satu lagi rasa hadir di dalam hati. inginkah kau menyesal karena tak bertanya ada apa padanya ? sanggupkah kau mempertanggung jawabkan jika gadis berparas bidadari itu terluka dan kau yang tau tak menyelamatkan ?
tak berfikir panjang, ku ikuti hatiku mendekati gadis berjilbab itu. dalam jarak satu meter ku sapa dia.
"assalamualaikum ?" tak pula berjawab. ingin sekali kusentuh pundaknya, menyadarkannya dari lamunan. namun itu bukan caraku. sekali lagi ku sapa.
"afwan, ukhti." akhirnya ia sedikit mengerjap dan mulai menyadari kehadiranku.
"waalaikm salam, akhi. ada apa?" seraya menangkupkan kedua belah tangannya di depan dada. subhanallah wajahnya, senyumnya, sorot matanya. Allah benar benar pencipta paling sempurna.
"tidak, saya hanya mengkhawatirkan anda. anda terlihat begitu kalut. ada apa ? apa anda baik baik saja ?"
"oh, afwan. tidak. saya tidak apa apa. kadang saya sering merenungi air mancur ini. ini ciptaan manusia, tapi sudah bisa seindah ini. apa lagi ciptaan Allah. pasti akan jauh lebih indah."
"iya, kamu benar. ciptaan Allah memang tiada duanya. mereka sempurna dengan cara Allah menyempurkan. tiada bercacat. saya, Hamdi Muhammad Ariandi. boleh tau nama anda ?"
"oh tentu saja. saya Sahira Firdausi. senang bertemu denganmu. semoga Allah mempertemukan kita di lain kesempatan. ana awwalan yaa.. ada kuliah."
"iya, amiin. silahkan."
dua minggu setelah pertemuan tak disengaja itu.
Sahira Firdausi, gadis berparas bidadari sorga. bersuara semerdu kicau burung yang memuja Allah. bersikap dan berhati mulia. dialah makhluk sempurna, idaman sejuta pria muslim di seluruh dunia.
berkali kali tak sungkan hadir dalam mimpi mimpiku. menjadi bunga tidurku. ah, mungkinkah dia yang tertulis di Lauhul Mahfudzku ?
Hamdi Muhammad Ariandi, pria bersuara gemericik air menenangkan, berhati selembut kapas. mungkinkah dia yang tertulis di Lauhul Mahfudzku ? Robbi, jika benar dia yang Kau ciptakan dari tulang rusukku, pertemukanlah kami dan berilah kami tanda. jika memang bukan dia yang Kau ciptakan dari tulang rusukku, maka hapuslah rasa yang perlahan mulai mengusik ini. aku tak ingin rasa ini merusak rasaku padaMU, cinta.
munajat tak henti dipanjatkan Sahira dalam tiap sujudnya. dalam tiap sujudnya, yang ditemukannya hanya satu, Hamdi lah nama yang tertulis di Lauhul Mahfudznya. semakin dia ragu semakin kuat keyakinan di hatinya bahwa Hamdi adalah nama yang tertulis di Lauhul Mahfudznya.
di hari kesekian setelah munajat pada Robbi, Sahira teringat bahwa ia harus mengikuti sebuah pertemuan di kampusnya. bergegaslah ia pergi ke pertemuan tersebut.
di ruang pertemuan
penyampai materi sedang menceritakan satu kisah di masa lalu tentang seorang wali wanita yang bertemu dengan suami pada pertemuan tak disengaja dan dipertemuan itu sang suaminya langsung mengatakan "kaukah yang tertulis di Lauhul Mahfudzku ?" dan sang wali wanita itu hanya bisa mengangguk dan mengajukan pertanyaan serupa. akhirnya mereka menikah dan hidup dalam bahtera rumah tangga yang sakinah.
terlintas di pikiran Sahira, mungkinkah dirinya dan Hamdi ditakdirkan seperti itu ? betapa Maha Besarnya Allah. di akhir pertemuan, entah apa yang membawaku berjalan ke bangku taman, di belakang kampus. termangu memikirkan apa yang baru saja di ungkapkan oleh penyampai materi barusan.
Astaghfirullah..... sadarku dalam hati. tiba tiba suara gemericik air seakan berbicara padaku.
"Sahira Firdausi, mungkinkah aku tercipta dari tulang rusukmu ? mungkinkah kau yang tertulis di Lauhul Mahfudzku ? walaupun kau bilang, tidak mungkin. hatiku yakini itu. dan ku percaya pada Allah sang Maha Perencana. Allah telah merencanakan pertemuan kita, menyatukan kita dan dengan ridhoNya lah, bersama kita arungi bahtera rumah tangga."
"kau kah itu Hamdi ? fikirku pun tak jauh berbeda denganmu. izinkan aku menjadi wanita paling beruntung dan bahagia untuk menjadi pendamping hidupmu serta menjadi ibi bagi anak anakmu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar